IPM Bangkalan

Mengapa Penting Mencari Malam Lailatul Qadar?

IPMawan Aryo

Pendekatan Bahasa dalam Diksi Al-Qur’an
Malam Lailatul Qadar merupakan salah satu malam paling agung dalam ajaran Islam. Keistimewaannya tidak hanya ditegaskan melalui hadis Nabi Muhammad ﷺ, tetapi juga diabadikan secara langsung oleh Allah SWT dalam Surah al-Qadr. Dalam surah tersebut ditegaskan bahwa Lailatul Qadar lebih baik daripada seribu bulan, yang bermakna bahwa satu malam ibadah di dalamnya bernilai lebih tinggi daripada ibadah selama kurang lebih delapan puluh tiga tahun. Pernyataan ini menunjukkan betapa luar biasanya kedudukan Lailatul Qadar dalam perspektif Al-Qur’an.
Keutamaan Lailatul Qadar mencakup beberapa aspek fundamental. Pertama, malam ini merupakan waktu diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk hidup bagi seluruh umat manusia. Kedua, seluruh amal ibadah yang dilakukan pada malam ini dilipatgandakan pahalanya melebihi seribu bulan. Ketiga, Lailatul Qadar adalah malam yang dipenuhi kedamaian dan keberkahan hingga terbit fajar. Keempat, para malaikat turun ke bumi membawa rahmat, kebaikan, dan ketenteraman. Kelima, malam ini menjadi sebab pengampunan dosa bagi hamba yang menghidupkannya dengan iman dan penuh pengharapan akan pahala dari Allah SWT.
Karena keagungan tersebut, Rasulullah ﷺ menganjurkan umatnya untuk bersungguh-sungguh mencari Lailatul Qadar pada sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, terutama pada malam-malam ganjil. Anjuran ini diwujudkan dengan memperbanyak salat malam, doa, zikir, serta tilawah Al-Qur’an sebagai bentuk penghambaan total kepada Allah SWT.
Para mufassir berbeda pendapat mengenai makna kata القَدَرُ dan القَدْرُ dalam Surah al-Qadr. Sebagian ulama memaknai القَدَرُ, dengan huruf dal berharakat fathah, sebagai ketetapan atau takdir. Menurut pandangan ini, pada malam Lailatul Qadar Allah SWT menetapkan berbagai urusan hamba-Nya untuk satu tahun ke depan, seperti rezeki, ajal, dan peristiwa-peristiwa besar lainnya. Oleh karena itu, manusia dianjurkan untuk memperbanyak doa pada malam tersebut.
Pendapat lain memaknai القَدْرُ, dengan huruf dal bersukun, sebagai kemuliaan. Penafsiran ini didasarkan pada kenyataan bahwa pada malam inilah Al-Qur’an diturunkan dan para malaikat turun membawa ketenangan serta rahmat. Sementara itu, sebagian mufassir juga memaknai al-qadr sebagai kesempitan, yakni karena begitu banyaknya malaikat yang turun ke bumi sehingga bumi seakan terasa sempit oleh limpahan keberkahan.
Pendekatan kebahasaan Al-Qur’an tampak jelas dalam firman Allah SWT:

تَنَزَّلُ الْمَلَائِكَةُ وَالرُّوحُ

Pada ayat ini, kata al-rūḥ dipahami oleh mayoritas mufassir sebagai Malaikat Jibril. Penyebutan Jibril secara khusus, terpisah dari malaikat lainnya, menunjukkan bentuk pemuliaan dan keistimewaannya dibanding malaikat yang lain. Selain itu, penggunaan kata kerja تَنَزَّلُ (tanazzalu) memiliki makna yang sangat mendalam secara linguistik. Kata ini berbeda dengan تَتَنَزَّلُ (tatanazzalu) yang digunakan dalam Surah Fussilat ayat 30:

تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا…

Kata tatanazzalu menunjukkan peristiwa turunnya malaikat yang terjadi secara berulang dan hampir setiap hari, seperti dalam proses pencabutan nyawa manusia atau pemberian ketenangan kepada orang-orang beriman. Hal ini selaras dengan realitas bahwa setiap hari selalu ada manusia yang wafat.
Sebaliknya, penggunaan kata tanazzalu dalam Surah al-Qadr menunjukkan peristiwa turunnya malaikat dalam jumlah yang sangat besar yang terjadi secara khusus dan periodik, yaitu hanya satu kali dalam setahun, tepatnya pada malam Lailatul Qadar di bulan Ramadan. Pilihan diksi ini menegaskan bahwa Lailatul Qadar adalah peristiwa langit yang luar biasa, tidak bersifat rutin, dan memiliki nilai spiritual yang sangat tinggi.
Dari pemaparan tersebut, dapat dipahami betapa pentingnya bagi seorang Muslim untuk memanfaatkan sepuluh malam terakhir bulan Ramadan dengan sebaik-baiknya. Tidak ada jaminan bahwa seseorang masih akan dipertemukan dengan Ramadan di tahun berikutnya. Oleh karena itu, kesempatan meraih malam yang lebih baik daripada seribu bulan—ketika para malaikat turun membawa rahmat dan ketenangan—patut diperjuangkan dengan kesungguhan ibadah. Semoga Allah SWT memudahkan kita untuk bertemu dengan Lailatul Qadar dan mengisinya dengan amal ibadah serta doa-doa terbaik.
Sumber:
Tafsir Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur’an al-‘Azhim
Tafsir Al-Qurtubi, Al-Jāmi‘ li Aḥkām al-Qur’ān

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *