
Memahami Makna Kurban dalam QS Al-Kautsar: Kajian Diksi dan Linguistik Ayat merupakan salah satu ibadah agung dalam Islam yang dilaksanakan pada hari Iduladha dan memiliki nilai pahala yang sangat besar. Jika ditinjau dari sisi bahasa, kata “Iduladha” berasal dari kata عيد yang bermakna perayaan atau hari besar. Hal ini dapat diperhatikan dalam firman Allah pada QS Al-Maidah ayat 114:
{ قَالَ عِيْسَى ابْنُ مَرْيَمَ اللّٰهُمَّ رَبَّنَآ اَنْزِلْ عَلَيْنَا مَاۤىِٕدَةً مِّنَ السَّمَاۤءِ تَكُوْنُ لَنَا عِيْدًا لِّاَوَّلِنَا وَاٰخِرِنَا وَاٰيَةً مِّنْكَ وَارْزُقْنَا وَاَنْتَ خَيْرُ الرّٰزِقِيْنَ }
Nabi Isa putra Maryam berkata, “Ya Allah Tuhan kami, turunkanlah kepada kami hidangan dari langit yang akan menjadi hari raya bagi kami, bagi orang-orang yang bersama kami maupun yang datang setelah kami, serta menjadi tanda kekuasaan-Mu. Berilah kami rezeki, dan Engkaulah sebaik-baik pemberi rezeki.”
Pada ayat tersebut Allah menggunakan kalimat عيدًا yang menunjukkan makna perayaan, kebahagiaan, dan berkumpulnya manusia dalam kenikmatan serta rasa syukur. Makna ini lebih tepat dibandingkan mengaitkannya dengan عاد يعود yang berarti “kembali”. Sebab, Iduladha memang menjadi momentum kebahagiaan, makan bersama, dan berbagi kepada sesama. Bahkan Allah memberikan tambahan tiga hari, yaitu hari-hari tasyrik, agar kaum Muslimin dapat menyembelih dan menikmati hewan kurban tersebut.
Namun, ketika kita menelaah makna kurban dalam Surah Al-Kautsar, Allah membuka ayat dengan firman-Nya:
{ إِنَّا أَعْطَيْنَاكَ الْكَوْثَرَ }
“Sesungguhnya Kami telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.”
Menarik untuk diperhatikan mengapa Allah menggunakan diksi “Kami” (إِنَّا), bukan “Aku” (إني). Penggunaan kata “Kami” menunjukkan keagungan, kekuasaan, dan kesempurnaan sifat-sifat Allah. Dengan seluruh kebesaran-Nya, Allah memberikan nikmat yang sangat agung kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Selain itu, Allah memilih kata أَعْطَى يُعْطِي yang bermakna memberi dengan penuh anugerah dan kepemilikan khusus, bukan أَتَى يُؤْتِي yang maknanya lebih umum. Hal ini dapat dibandingkan dengan firman Allah dalam QS Ali Imran ayat 26:
{ تُؤْتِي الْمُلْكَ مَنْ تَشَاءُ وَتَنْزِعُ الْمُلْكَ مِمَّنْ تَشَاءُ }
“Engkau memberikan kerajaan kepada siapa yang Engkau kehendaki dan mencabutnya dari siapa yang Engkau kehendaki.”
Pada ayat tersebut, kata تُؤْتِي menunjukkan pemberian yang bersifat umum dan tidak mutlak, karena kekuasaan itu dapat dicabut kembali. Berbeda dengan kata يُعْطِي dalam Surah Ad-Duha ayat 5:
{ وَلَسَوْفَ يُعْطِيكَ رَبُّكَ فَتَرْضَى }
“Dan sungguh, Tuhanmu akan memberikan kepadamu hingga engkau ridha.”
Kata يُعْطِي di sini menunjukkan anugerah yang khusus dan agung yang Allah berikan kepada Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, berupa nikmat yang sempurna, termasuk syafaat bagi umatnya. Oleh sebab itu, kita patut bersyukur menjadi bagian dari umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam.
Sebagian ulama juga menjelaskan perbedaan ungkapan:
يغفر لكم ذنوبكم
dan
يغفر لكم من ذنوبكم
Pada umat Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam disebutkan tanpa huruf مِنْ, yang menunjukkan ampunan secara menyeluruh. Adapun pada sebagian umat terdahulu terdapat tambahan مِنْ yang dalam kaidah bahasa Arab dapat bermakna تبعيض (sebagian).
Kemudian Allah berfirman:
{ فَصَلِّ لِرَبِّكَ وَانْحَرْ }
“Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu dan berkurbanlah.”
Mengapa Allah menggunakan diksi لِرَبِّكَ (untuk Tuhanmu), bukan لنا (untuk Kami)? Hal ini menunjukkan bahwa seluruh ibadah harus ditujukan khusus hanya kepada Allah semata. Penyebutan salat didahulukan sebelum kurban juga mengandung pelajaran penting bahwa ibadah lahiriah harus diawali dengan ketundukan hati dan kedekatan kepada Allah.
Kurban bukan sekadar menyembelih hewan, tetapi sarana mendidik jiwa agar terhindar dari sifat kikir dan cinta dunia yang berlebihan. Melalui kurban, seorang Muslim belajar berbagi, mensyukuri nikmat Allah, serta menundukkan ego dan hawa nafsunya. Dengan demikian, kurban menjadi simbol ketakwaan, kepedulian sosial, dan rasa syukur seorang hamba kepada Rabb-nya.
والله أعلم بالصواب.

