foto kartun gen z
Pena IPM – Ramadhan selalu datang sebagai bulan penuh berkah, di mana umat Islam di seluruh dunia berlomba-lomba memperbaiki diri dan meningkatkan keimanan. Datangnya Bulan Ramadhan ini tentunya sangat dinantikan oleh semua umat muslim. Namun, di tengah semangat suci itu, ada satu kelompok yang menghadapi tantangan unik dalam menjalani Ramadhan yaitu Generasi Z.
Generasi yang lahir dan tumbuh di era digital ini, memiliki karakteristik yang berbeda dibandingkan generasi sebelumnya. Jika kita menjadi salah satu golongan ini, tentunya “Ramadhan” Kali ini terasa lebih cepat dan lebih membosankan daripada saat kecil dulu. Gen Z hidup di tengah dunia yang serba cepat dan penuh distraksi. Notifikasi media sosial, tontonan streaming tanpa batas, dan ragam konten hiburan menjadi bagian dari keseharian mereka. Di sisi lain, mereka juga haus akan makna yang lebih dalam, sesuatu yang bisa mereka rasakan secara personal dan autentik.
Lantas yang kemudian seringkali terlintas sebagai pertanyaan, apa makna hidup ini ? Ustadz kami, Ustadz Jaka Anandika, mengibaratkan makna hidup seperti halnya makna pilihan Orang tua kepada Gen Z. Orang agamis pasti akan mengatakan bahwa peran pilihan orang tua menjadi pilihan terbaik, karena didalamnya terdapat Ridho Allah. Selain itu, orang tua pernah seusia kita dan dipandang memiliki saran yang lebih realistis untuk kehidupan.
Disisi lain, Gen z yang berpikiran idealis, akan mengatakan saran orang tua tidak semua harus diterima, adakalanya kita mempertimbangkan apa yang kita pikirkan, karena zaman mereka dulu tidak semuanya sama dengan zaman kita saat ini. Bahkan kalangan ini akan berpendapat menggiring opini orang tua hingga sesuai opini mereka. Kemudian menjadi tantangan tersendiri mencari makna di bulan suci ini. Bulan yang harusnya menjadi salah satu bulan penopang untuk fokus ibadah, akan tetapi justru sibuk dalam mengejar tren duniawi yang kemudian akan di posting di media sosial masing-masing.
Generasi Z cenderung kritis dan mencari alasan di balik setiap perintah agama, termasuk puasa. Bagi mereka, Ramadhan bukan sekadar kewajiban, tetapi momen refleksi diri, detox dari hiruk-pikuk dunia digital, serta upaya menyambung kembali hubungan dengan Allah. Saat mereka memahami bahwa puasa melatih empati, kepekaan sosial, dan pengendalian diri, makna Ramadhan menjadi lebih dalam.
Di era teknologi, peluang mendekatkan diri pada nilai-nilai Islam semakin luas. Kajian daring, komunitas virtual, dan aplikasi ibadah menjadi sarana yang relevan bagi mereka. Ramadhan pun bisa menjadi momentum gerakan sosial, berbagi, dan edukasi, yang mereka lakukan melalui media digital yang akrab di tangan. Generasi Z bukan anti agama, mereka hanya butuh pendekatan yang sesuai zamannya. Dengan bimbingan yang tepat, mereka mampu menjadikan Ramadhan lebih bermakna, bukan sekadar rutinitas, tapi sebagai perjalanan spiritual yang jujur dan nyata.
Penulis : IPMawan Fajrian