Foto suasana langit malam
Pena IPM – Ramadan selalu membawa nuansa istimewa dalam kehidupan seorang muslim. Di antara malam-malam penuh berkah itu, ada satu malam yang disebut-sebut lebih mulia dari seribu bulan—Lailatul Qadr. Malam ini bukan sekadar peristiwa dalam sejarah turunnya Al-Qur’an, melainkan juga momen yang dihidupkan oleh cahaya keimanan dan amal kebaikan.
Allah SWT mengabadikan kemuliaan malam ini dalam surah Al-Qadr. Allah berfirman, “Sesungguhnya Kami telah menurunkannya (Al-Qur’an) pada malam kemuliaan. Dan tahukah kamu apakah malam kemuliaan itu? Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS. Al-Qadr: 1-3). Sebuah keutamaan yang sulit untuk dinalar secara manusiawi; satu malam, lebih mulia dari perjalanan panjang delapan puluh tiga tahun.
Keutamaan Malam Lailatul Qadr salah satunya tertera pada kitab Riyadhush Shalihin, Dari Abu Hurairah, bahwa Rasulullah Saw. Bersabda :
مَنْ قَامَ لَيْلَةَ القَدْرِ إيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
“Barangsiapa yang bangun di waktu malam Lailatul Qadar karena iman dan mengharapkan pahala, maka akan diampuni dosanya yang telah lalu.” (H.R. Bukhari dan Muslim)
Dalam kitab Irsyadul Ibad disebutkan beberapa tanda malam lailatul qadr yang familiar disebutkan seperti terjadi di malam ganjil pada 10 terakhir di bulan ramadhan. Rasulullah banyak bersabda dalam hadisnya mengenai ciri ciri datangnya Lailatul Qadr. Banyaknya hadis ini menandakan bahwa hadirnya Lailatul Qadr tidak ada yang tau waktu pasti datangnya. Seperti Dalam panduan yang ditulis Imam Al-Ghazali yang juga digunakan oleh Syekh Abu Hasan, beliau menulis datangnya malam lailatul Qadr dicocokkan dengan datangnya awal Ramadhan.
Lailatul Qadr sebagai malam yang dinantikan seluruh umat Islam menjadi momentum yang berharga untuk kemudian meningkatkan kualitas keimanan dan amal. Beberapa yang kemudian disunnahkan nabi seperti Salat Qiyamul lail atau tarawih/ Tahajjud, Memperbanyak membaca Al-Quran, Berdoa atau beristighfar, bersedekah, dan memperbanyak dzikir kepada Allah
Walaupun waktu pastinya dirahasiakan, Rasulullah menganjurkan untuk mencarinya di sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, khususnya di malam-malam ganjil. Kesungguhan dalam mencarinya adalah bentuk keseriusan kita dalam mengejar ridha dan maghfirah-Nya. Lailatul Qadr bukan hanya tentang malam yang bercahaya, tetapi juga tentang bagaimana kita membawa cahaya itu ke dalam hidup sehari-hari setelah Ramadan berlalu. Jadikan malam itu sebagai titik tolak perubahan menuju pribadi yang lebih taat, lebih dermawan, dan lebih dekat dengan Allah.
Penulis : IPMawan Fajrian