Aryo – Judul di atas adalah perasaan yang sering dialami oleh banyak dari kita. Merasa tertinggal, merasa diri ini tidak ada apa-apanya dibandingkan orang lain. Prestasi mereka gemilang, sedangkan aku…
Insecure adalah hal yang lumrah bagi semua kalangan, terutama anak muda. Ketika kita sudah berjuang tapi masih gagal, berbenah adalah solusi. Jangan terlalu menyalahkan diri sendiri sepenuhnya, karena kita sudah mengorbankan banyak hal, mungkin fisik, mungkin juga waktu tidur kita, demi sebuah perjuangan. Berkembang meskipun hanya 1 persen tetap lebih baik daripada tidak sama sekali.
Tidak ada kata gagal, karena tanpa kegagalan, semangat kita tidak akan muncul. Husnudzon kepada Allah. Mungkin kita digagalkan oleh-Nya agar semangat kita kembali menyala.
Namun, ada pertanyaan lagi: “Aku sudah berjuang, kok tetap saja susah dan gagal?”
Nah, bagian yang dicetak tebal itu yang akan kita bahas.
Susah itu pasangannya gampang, sedih pasangannya bahagia, dan seterusnya.
وخلقنٰكم ازواجا
“Bukankah Allah menciptakan segala sesuatu berpasang-pasangan?” (QS. An-Naba: 8)
فانّ مع العسر يسرا. انّ مع العسر يسرا.
“Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan. Sesungguhnya bersama kesulitan ada kemudahan.” (QS. Al-Insyirah: 5-6)
Ayat tersebut Allah ulang dua kali dalam surat Al-Insyirah. Ini menunjukkan bahwa benar-benar akan ada kemudahan, tetapi dengan syarat harus melalui kesulitan terlebih dahulu. Dalam ilmu bahasa Arab, ini disebut taukid atau penguat dalam kalimat.
Kata اَلْعُسْرِ berbentuk ma’rifat (dengan Alif Lam) yang menandakan sesuatu yang khusus, seperti المسجد yang berarti “masjid itu” (spesifik). Seakan-akan kesulitan itu sesuatu yang terbatas dan sedikit.
Sedangkan kata يُسْرًا berbentuk nakirah (tanpa Alif Lam), menandakan sesuatu yang bersifat universal atau tidak terbatas, seperti مسجدٌ yang berarti “sebuah masjid” (tidak spesifik). Dengan kata lain, cara mengatasi masalah itu banyak, kemudahan itu banyak, sedangkan kesulitan hanya sedikit. MasyaAllah.
Ustadz Adi Hidayat dalam ceramahnya pernah menjelaskan:
Mengapa dalam QS. Al-‘Alaq tertulis بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ (dengan Alif), sedangkan di awal surat lain (kecuali QS. At-Taubah) tertulis بِسْمِ اللَّهِ (tanpa Alif)?
Beliau menjelaskan bahwa ketika wahyu pertama turun, Nabi Muhammad ﷺ belum mengetahui apa pun. Kehadiran Alif menandakan bahwa prosesnya panjang dan tidak mudah. Dalam belajar, bekerja, atau hal apa pun, selalu ada proses yang harus dilalui.
Benih yang kita tanam tidak langsung tumbuh; semuanya butuh waktu. Nikmatilah prosesnya. Jangan terlalu menuntut hasil, karena jika kita hanya fokus pada hasil, kita akan larut dalam kekecewaan. Hasil adalah ranah Allah. Tugas kita hanya berusaha, dan setiap usaha itu bernilai pahala.
Fokuslah pada apa yang bisa kita ubah. Yang bisa kita ubah adalah usaha, sedangkan hasil bukan wewenang kita. Namun, hasil bisa berubah dengan usaha yang maksimal.